Sebuah bus berisi kurang-lebih 20 orang itu melaju kencang di sebuah jalan tol yang lengang. Aku membuka kaca jendela lebar-lebar dan membiarkan angin masuk menerpa wajahku. Hijaunya pepohonan dan rerumputan di sisi-sisi jalan segera memenuhi iconic memory-ku. Aku merogoh ke dalam tas. Dari sana, aku mengambil sebuah benda –entah berapa rupiah uang yang telah kubuang buat benda yang satu ini—kemudian mematikannya.
Aku merindukan ketenangan dan oleh karena itu, aku menjadi bagian dari perjalanan ini. Ini adalah perjalanan buat jiwaku, sebuah perjalanan melintasi ruang dan waktu. Bagi seorang musafir sepertiku, tak ada istilah berhenti dari perjalanan. Selesai dari suatu perjalanan hanya berarti bahwa aku akan mengawali sebuah perjalanan yang baru. Perjalananku selalu berkesinambungan, panjang, melelahkan sekaligus melegakan. Aku kuatkan jiwa tuk menapak meski raga ini terasa letih tuk bergerak. Masih terlalu pagi untuk berhenti, masih terlalu dini tuk berkata: ”aku ingin mati dan dimakamkan di tempat ini saja..”
Masih banyak tanah bumi yang belum aku injak, masih banyak air bumi yang belum aku teguk, masih banyak udara bumi yang belum aku hirup, masih banyak keindahan-keindahan mahakarya Tuhan yang belum aku saksikan dan masih banyak hal yang harus aku selesaikan.
’I’m undone with myself’ aku belum selesai dengan diriku. Dan aku yakin, selain aku, masih banyak manusia-manusia lain di luar sana yang juga belum selesai dengan dirinya. Aku ingin sesuatu yang baru dalam hidupku, pengalaman baru, spirit baru, jiwa baru dan karya-karya baru. Oleh karena itu, telah kututup sebuah buku catatan masa lalu dan kan kutulis serangkaian cerita di lembaran-lembaran buku yang baru. Dan inilah aku, dengan duniaku yang masih tetap gelap tapi jauh lebih gemerlap..
